Cahaya pagi yang menerangi suasana indahnya pagi dan angin yang bertiup di pagi hari membuat daun-daun berguguran. Bunyi jam alarm yang terletak di bawah bantal Dina, memaksa Dina untuk beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas ke sekolah. Dengan malas, Dina beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, Dina bergegas untuk sarapan pagi dan berangkat sekolah. Pagi hari di halaman rumah Dina hal yang biasa bagi Rara. Seorang gadis cantik berambut hitam terurai dengan rapi. Dia selalu menunggu Dina di halaman rumahnya untuk berangkat ke sekolah bersama, dengan dasi yang terikat tidak rapi di baju Dina, Dina terburu-buru menghampiri Rara yang berada di halaman rumahnya.
“Rara...Rara maaf lama menunggu? Aku kesiangan hehe” kata Dina
“Iya tidak apa-apa Din, sudah biasa kamu seperti ini. Hehe itu lihat dasi kamu tidak
rapi sekali din,ya sudah ayo kita bergegas ke sekolah, nanti kita terlambat aja.”
sahut Rara, sambil meledek dan mengacak-acak rambut Dina
“Huuh, dasar Rara ngeselin!” kesal Dina
Dengan rasa kesal, Dina pun bergegas berangkat ke sekolah bersama dengan Rara sahabatnya. Semester 4 kelas XI IPA 1 itu adalah kelas Dina dan Rara, mereka bersekolah di SMA Yadika. Sudah 12 tahun Dina dan Rara bersahabat, mereka selalu menghabiskan waktu bersama canda-tawa, sedih, senang mereka selalu hadapi bersama.
“Teng teng teng...” bunyi bel tanda masuk pun berbunyi. Semua anak berlarian masuk ke kelasnya masing-masing termasuk Dina dan Rara, Dina dan Rara segera duduk di tempat duduk mereka. Pelajaran pertama adalah pelajaran kesukaan Rara, yaitu olah-raga. Pak Alan adalah salah satu seorang guru olah-raga yang disukai oleh murid-murid karena ketampanannya, pak Alan masuk dengan senyum manisnya, lesung pipit yang ada di pipinya menambah ketampanannya. Sesampainya di kelas pak Alan memberikan informasi kepada murid-muridnya bahwa sekolah SMA Yadika akan mengikuti lomba paskibra yang akan diikuti dari berbagai sekolah. Rara adalah salah satu yang mewakili lomba paskibra tersebut. Dengan serentak murid-murid bersorak dengan gembira. Rara dengan senyumnya yang kecil dan rasa gembira yang ada di dalam hatinya tidak menyangka bahwa ia terpilih untuk mengikuti lomba paskibra tersebut. Dina meberikan selamat kepada Rara,karena Dina tahu bahwa kegiatan paskibra adalah kesukaan Rara, Dina ikut senang melihat sahabatnya bergembira dengan riang.
***
“Teng teng teng...” suara bel pulang terdengar sangat nyaring. Dina dan Rara segera bersiap-siap merapikan tas mereka dan bergegas pulang. Pulang petang sudah biasa dilakukan oleh Rara dan Dina, karena mereka setiap pulang sekolah tidak pernah langsung pulang kerumahnya, akan tetapi Rara dan Dina selalu menghabiskan waktunya hingga petang datang bersama-sama. Mereka selalu menghabiskan banyak waktu di taman yang tidak jauh dari rumah Dina. Banyak sekali hal-hal menarik yang dilakukan oleh Rara dan Dina hingga petang tiba. Ketika petang mulai menjelang Rara dan Dina sangat senang melihat matahari tenggelam dengan cahaya orange yang indah di pandang mata, membuat Rara dan Dina larut dengan suasana.
“Dina, coba lihat sebentar lagi matahari akan tenggelam, kita hitung mundur
bersama yuk? 3...2...1..”dengan perlahan Dina dan Rara menghitung mundur
“Sungguh indah ya Rara melihat matahari tenggelam?”tanya Dina sambil menikmati
indahnya melihat matahari tersebut
“Iya Dina,indah sekali! Persahabatan yang kita jalani semoga seperti matahari.
Selalu menerangi dengan cahanya disaat pagi datang dan mulai tenggelam di kala
waktunya.”sahut Rara sambil meneteskan air mata
“Rara kok tumben bilang begini? Kamu kenapa meneteskan air mata?”jawab Dina
dengan heran kepada Rara
“Tidak apa-apa kok Din, aku hanya takut saja kalau suatu saat nanti kita tidak bisa
menghabiskan waktu bersama lagi.”dengan sedih Rara menjawab pertanyaan Dina
“Huh, Rara jangan gitu ngomongnya kita pasti bisa terus bersama-sama.”sahut Dina
sambil memeluk Rara
Hari itu pun berakhir dengan perasaan senang dan sedih. Dina dan Rara segera pulang kerumahnya masing-masing karena mereka khawatir orang tuanya akan mencari mereka karena Dina dan Rara selalu pulang hinga petang. Hari besok akan menjadi hari yang cerah untuk Rara dan Dina. Karena besok adalah hari perlombaan untuk Rara berjuang meraih kemenangan.
***
Hari esok pun tiba, kicauan burung bernyanyi menyambut pagi hari yang cerah, bunga-bunga menari dengan gembira, cahaya terang matahari menyapa pagi datang. Dengan rambut terurai indah dan rapi, senyum manis yang menghiasi wajahnya, dan pakaian paskibra yang dikenakan oleh Rara menambah kecantikan yang ada pada dirinya. Dengan rasa senang dan gembira Rara berangkat untuk lomba, pada saat lomba Dina sahabatnya tidak bisa ikut menemani Rara karena ia harus menjaga rumahnya. Akan tetapi ketidak hadiran Dina tidak mematahkan optimisnya untuk memenangkan lomba tersebut. Lomba tersebut pun berakhir dan Rara memenangkan lomba tersebut, tak sabar Rara memberitahukan kepada Dina bahwa ia telah berhasil menjadi juara. Segera Rara bergegas untuk menuju rumah Dina, dengan motor beat warna putih Rara menuju rumah Dina. Akan tetapi di tengah perjalanan dari kejauhan terlihat sebuah mobil besar yang melaju sangat cepat seperti mobil tersebut tidak bisa di kendalikan oleh supirnya. Rara berusaha untuk minggir dan berusaha turun dari motornya tapi apa daya mobil yang melaju sangat kencang merenggut nyawa Rara seketika. Masyarakat yang berada di tempat kejadian berusaha menghubungi keluarga Rara.
***
Siang hari ini tampak awan tidak bersahabat, angin bertiup sangat kencang seolah ingin menyampaikan sebuah pesan. Tak secerah kemarin, ada sesuatu yang mengganjal di hati Dina. Entah mengapa pikiran Dina tiba-tiba tertuju pada sahabatnya Rara. “Prakk...” foto Dina bersama dengan Rara terjatuh begitu saja. “Ya Tuhan, pertanda apa ini?”kenapa perasaan ku dilanda rasa takut dan sedih”tanya Dina dalam hatinya. Dina langsung membersihkan pecahan kaca foto yang ada di lantai kamarnya. Setelah Dina membersihkan pecaha kaca tersebut, Dina membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya sambil merenung dan berpikir pertanda apa yang ia rasakan. “Kring..kring..”tiba-tiba hp Dina berdering, alangkah senang dan gembiranya jika yang telepon Rara. Akan tetapi nomor yang tidak Dina kenal yang menelponnya. Pikir Dina bahwa itu Rara yang yang menelpon menggunakan nomor temannya untuk memberitahu kabar gembira atas kemenangannya meraih juara paskibra,
“Hallo. Rara ya? Pake nomor siapa kamu? Gimana lombanya Ra? Menang
ya?”tanya Dina tanpa mengetahui siapa orang yang menelponnya
“Ini bukan Rara, Dina. Ini ibunya Rara?”
“Oh, ibu maaf. Saya kira Rara. Kenapa bu? Raranya kemana?”
“Rara sudah tidak ada Din, Rara kecelakaan ketika menuju rumah kamu.
Kecelakaan tersebut merenggut nyawa Rara.”
Ya Tuhan! Apa ini pertanda yang Engkau maksud! Sahabat ku Rara pergi meninggalkan Dina sendiri. Kecelakaan maut yang merenggut nyawa Rara membuat Dina kehilangan senyum manis Rara, canda-tawa, sedih, susah bersama Rara kini tidak lagi menghiasi hari-hari Dina. Kini Dina hanya bisa melihat nisan yang terukir dengan jelas nama Rara sahabatnya. Rara yang baru berusia 16 tahun pergi meninggalkan semua kenangan yang pernah ia lakukan bersama-sama dengan Dina. Canda-tawa, sedih, senang tinggalah sisa-sisa kenangan.
Dalam setiap hari-hari sepi Dina, dalam kesendirian dan kesunyian, Dina hanya bisa mengingat dan menyimpan memori saat-saat yang ia lalui bersama dengan Rara sahabatnya, karena Rara selalu membuat hari-hari Dina begitu berwarna dan berarti.
Blog List
clock
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar